Industri telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Jika dilihat dalam komposisi pembentukkan pendapatan domestik bruto (PDB), sektor industri pada tahun 2014 memiliki presentase 23 persen. Presentase ini jauh pada tahun 2001 dimana sektor industri memberikan kontribusi sebesar 29 persen. Data tersebut menunjukkan gejala deindustrialisasi yang terjadi di Indonesia (CORE 2014). Padahal industri memberikan keuntungan dari sisi penyerapan tenaga kerja. Hal ini selaras dengan prioritas pemerintah dalam mengurangi pengangguran dan membuka banyak lapangan kerja.

Dari latar belakang sejarahnya, Indonesia sudah mengalami masa industrialisasi. Pemerintahan orde baru menekankan pada substitusi impor dan promosi ekspor. Kedua hal ini masif dilakukan oleh negara Asian Tigers (Wie 1994), Beberapa negara yang menitikberatkan pada industri, terbukti mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat dan pembangunan ekonomi yang menyeluruh. Bahkan beberapa negara yang miskin sumber daya alam maupun kaya sumber daya alam membutuhkan industri (Hartanto 2016).

Terdapat tiga hal yang disorot dalam artikel ini terkait polemik Industri yang terjadi di Indonesia. Pertama yaitu ketergantungan impor untuk bahan baku maupun penolong di beberapa industri. Masalah pertama ini menghambat sektor industri dalam hal pengadaan input, sehingga biaya-biaya melambung tinggi (Kompas 2015). Kedua yaitu industri yang tidak berorientasi pada ekspor melainkan pemenuhan dalam negeri. Permasalahan ini disebabkan oleh kurangnya daya saing produk Indonesia di kancah internasional, dan kurangnya kualitas produk industri untuk diekspor. Ketiga yaitu komposisi biaya yang tinggi sehingga industri tidak bisa bersaing secara kompetitif.

Penelitian dalam artikel ini menggunakan data sekunder, serta dianalisis menggunakan survei industri nasional tahun 2011, dan data-data terbaru. Penggunaan data tahun 2011 dianalisis menggunakan komposisi ISIC atau klasifikasi industri dan diolah menggunakan aplikasi STATA. Beberapa industri yang dipilih untuk dianalisis adalah makanan, minuman, tekstil, alas kaki, farmasi, elektronik, dan otomotif. Ketujuh industri ini memiliki pangsa kurang lebih 46 persen terhadap keseluruhan industri manufaktur pada tahun 2016 (CORE 2016).

Polemik Muncul

Gambar 1. Penyumbang pertumbuhan PDB tahun 2016
(Sumber: CORE (2016))

Industri Indonesia belum memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Analisis pada Gambar 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan dari kuartal 1 sampai kuartal 3 tahun 2016 jauh dibawah rata-rata pertumbuhan PDB. Hal ini menunjukkan bahwa industri belum menjadi prioritas pembangunan, padahal pertumbuhan ekonomi yang kuat ditopang oleh pertumbuhan sektor industri. Tren yang terjadi menunjukkan bahwa ekonomi ditopang oleh sektor jasa yang memberikan pertumbuhan sektoral tertinggi.

Gambar 2. Komposisi Impor
Sumber: Diolah dari Kementerian Industri (2014)

Selain itu, Gambar 2 menganalisis mengenai komposisi impor yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2014, impor terbesar yaitu impor bahan baku dan penolong sebesar 67 persen. Dengan tingkat impor yang tinggi maka akan memperlebar defisit perdagangan, sehingga . Pembangunan industri hulu yang kuat mutlak dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan. Namun, substitusi impor atau mengganti barang-barang impor untuk diproduksi dalam negeri belum dilakukan oleh industri.

Permasalahan pertama yaitu beberapa industri mempunyai presentase tinggi bahan baku dan penolong yang diimpor. Berdasarkan transaksi moneternya, industri farmasi, elektronik, dan otomotif memiliki tingkat impor yang relatif tinggi dengan range 43 persen hingga 79 persen.

Gambar 3. Komponen bahan baku dan penolong industri
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Seperti yang dapat dilihat dari Gambar 3, tingkat ketergantungan impor bahan baku dan penolong paling tinggi ada di industri farmasi yaitu sekitar 79.5 persen, lalu industri elektronik sebesar 59.2 persen. Diakhiri oleh industri otomotif yang berkisar 43.5 persen. Tingkat impor yang tinggi bisa memberatkan bagi industri, jika terjadi volatilitas nilai tukar. Hal ini ditambah lagi dengan ketidakpastian ekonomi global (CORE 2016).

Gambar 4. Industri yang melaksanakan Ekspor
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Gambar 5. Riset dan Pengembangan di Industri
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Di sisi lain, lima dari tujuh industri memiliki tingkat ekspor relatif kecil jika dibandingkan dengan industri lain. Seperti yang dapat terlihat dalam Gambar 4, hanya industri elektronik dan otomotif yang melakukan ekspor relatif sedang. Hal ini ditunjukkan dengan 43 persen industri elektronik yang melakukan ekspor dari keseluruhan sampel. Dalam kasus industri otomotif hanya 23.7 persen dari keseluruhan sampel yang melakukan ekspor. Sisa industri dalam sampel tidak melakukan ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa industri hanya memenuhi kebutuhan nasional. Namun, dalam hal pemenuhan kebutuhan nasional, industri tidak atau jarang melakukan riset dan pengembangan (lihat Gambar 5). Lebih dari 70 persen lebih industri tidak melakukan riset. Bahkan, industri yang harusnya berbasis riset dan pengembangan seperti farmasi, jarang melakukan riset. Hanya 22.4 persen dari industri farmasi yang melakukan riset dan pengembangan.

Gambar 6. Realisasi Produksi beberapa industri
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Jika permasalahan di hulu seperti input produksi yang belum selesai, maka terdapat permasalahan terakhir di hilir seperti biaya logistik. Penelitian LPEM-UI menunjukkan bahwa biaya logistik mencapai 14 persen dari biaya produksi (CORE 2014). Biaya logistik yang tinggi membuat industri tidak bisa bersaing secara kompetitif. Bahkan salah satu penyebab menurunnya kinerja industri nasional adalah biaya logistik. Dari gambar 6 dapat terlihat bahwa kinerja berdasarkan realisasi industri masih cukup rendah, yaitu sekitar 70 persen. Biaya logistik disebabkan distribusi barang masih terfokus pada angkutan jalan yaitu sebesar 91.2 persen dan angkutan laut sebesar 7.07 persen.

Gambar 7. Kumpulan Komposisi Biaya Industri Nasional
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Di sisi lain, permasalahan komposisi biaya dalam sebuah industri masih berkutat pada bahan baku dan upah. Hasil analisis pada kumpulan gambar 7 menunjukkan hampir 50 persen lebih biaya beberapa industri terkendala pada pembayaran upah karyawan dan penyediaan bahan baku-penolong.

Inovasi dengan Reindustrialisasi

Dalam rencana induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) ketujuh industri merupakan industri andalan. Yang dimaksud dengan industri andalan menurut UU Perindustrian no. 3 tahun 2014 meliputi :

  • Industri pangan
  • Industri farmasi, kosmetik, dan alat kesehatan
  • Industri tekstil, alas kaki, dan aneka
  • Industri alat transportasi
  • Industri elektronika dan telematika
  • Industri pembangkit energi

Gambar 8.Status Investasi Industri
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Namun, seperti yang terlihat dalam pembahasan diatas, beberapa industri mengalami polemik maupun masalah dari sisi hulu ke hilir. Namun, beberapa inovasi yang bisa dilakukan meliputi intensifikasi rantai pasok terkait proses pengadaan input. Dalam gambar 8, dapat dilihat bahwa industri andalan tersebut mayoritas merupakan investasi non-fasilitas, atau investasi yang lebih besar dari 500 juta rupiah. Artinya, bukan hanya industri besar yang berkompetisi, tetapi industri menengah. Industri ini bisa berkoordinasi untuk mensuplai bahan baku maupun penolong. Namun, proses pengadaan input yang tidak terintegrasi dan serampangan membuat impor bahan baku dan penolong relatif besar. Hal ini berdasarkan catatan dari Harvard Kennedy Government School bahwa rantai pasok Indonesia sangat tidak terkoneksi dengan rantai pasok global maupun domestik.

Terkait daya saing ekspor yang rendah, Indonesia bisa melakukan mixed up strategy substitusi impor dan promosi ekspor. Di tengah dunia yang serba dinamis, tidak bisa didahulukan satu maupun yang lain, terutama memilih hanya satu saja seperti substitusi impor atau promosi ekspor (Hartanto 2016). Dalam praktiknya, tingkat impor menandakan gagalnya strategi substitusi impor di Indonesia, dan kecilnya produksi yang diekspor menunjukkan kurang berhasilnya promosi ekspor setelah masa reformasi.

Gambar 9. Kawasan Industri
Sumber: Diolah dengan STATA© Survei Industri Nasional

Terakhir, untuk mengurangi biaya logistik, diperlukan pengalihan dan pemanfaatan moda transportasi selain angkutan jalan. Persiapan infrastruktur fisik maupun sumber daya manusia terkait logistik dapat dilakukan untuk mengurangi total biaya produksi. Seperti yang terlihat dalam gambar 9, kurang lebih hanya 10-20 persen industri berada di kawasan terpadu industri, sisanya tidak berada di kawasan industri. Terciptanya logistik terpadu dapat menurunkan biaya logistik dan mengurangi keseluruhan biaya produksi sehingga bisa bersaing dengan harga industri global.

Sebagai catatan penutup, industri manufaktur merupakan penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Namun, ditengah polemik dari hulu ke hilir, industri kita harus mengalami reindustrialisasi. Sektor jasa yang berkembang pesat harus diimbangi dengan industri. Fakta menunjukkan bahwa beberapa negara maju mempunyai sumbangan sektor industri terhadap PDB yang besar, sebelum beralih ke jasa. Dalam hal ini, Indonesia harus mempunyai transisi ekonomi yang jelas.  Jika polemik ini dibiarkan, maka bangsa ini akan menjadi konsumen di tengah ekonomi global. Kita siap, kita bisa!

Alexander Michael Tjahjadi
Kementerian Kajian Strategis
BEM KM UGM 2017

 

 

Daftar Pustaka

Centre of Reform on Economics Indonesia (CORE) 2016, CORE Economic Outlook 2017: Managing Economic Growth amidst New Global Dynamics, CORE, Jakarta

Centre of Reform on Economics Indonesia (CORE) 2014, Kebijakan Ekonomi dan sektor strategis nasional, CORE, Jakarta

Hartanto, Airlangga 2016, Merajut Asa: Membangun Industri, Grasindo, Jakarta

Kompas 2015, Tinjauan Kompas: Menatap Indonesia 2016, Kompas, Jakarta

Wie, Thee Kian 1994, Industrialisasi di Indonesia: beberapa kajian, LP3ES, Jakarta