Indonesia disebut sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan pada Februari 2017 mencapai 39.678.453 pekerja, sekitar 31,86% dari total angkatan kerja. Jumlah pekerja di sektor pertanian pada 2017 menunjukkan peningkatan pekerja sebanyak hampir dua juta orang dari tahun 2016 tetapi ketika melihat tahun-tahun sebelumnya pekerja di sektor ini mengalami penurunan. Di tengah penurunan, pekerja di sektor pertanian tetap lebih banyak daripada pekerja di sektor lain, dengan sektor kedua terbanyak, sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi, memiliki selisih lebih dari 10 juta pekerja dengan sektor pertanian.[1] Meskipun tetap menjadi sektor dengan jumlah pekerja terbesar, penurunan pekerja menjadi sebuah masalah bagi produksi di sektor pertanian, di samping masalah alih fungsi lahan dan perubahan iklim.

Jumlah pekerja di sektor pertanian yang berkurang menjadi masalah bagi produksi pertanian Indonesia yang masih tradisional. Dalam pertanian tradisional kegiatan pertanian dilakukan secara manual dibanding dengan menggunakan mesin dan ekstensifikasi, seperti memperluas lahan, dilakukan untuk meningkatkan produksi. Pertanian tradisional tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang karena penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian sama dengan kekurangan petani yang dapat mengolah lahan. Peningkatan produksi melalui memperluas lahan juga tidak dapat dilakukan karena kekurangan petani untuk mengolah lahan, di samping permasalahan alih fungsi lahan di berbagai daerah. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian, yang melihat pekerja usia muda memilih untuk bekerja di sektor lain, juga meninggalkan sektor pertanian dengan pekerja yang sebagian besar berusia tua, dengan sebesar 60,8% petani Indonesia pada 2013 berusia di atas 45 tahun.[2] Dominasi pekerja berusia tua akan memengaruhi produksi pertanian, selain karena jumlah petani berkurang, karena petani dengan usia tua dalam pertanian yang labor intensive memiliki produktivitas yang lebih rendah dibanding petani yang berusia muda.[3]

Penurunan jumlah pekerja dan dominasi pekerja dengan usia tua, yang mana disebabkan penurunan jumlah pekerja itu sendiri, di sektor pertanian berdampak pada penurunan produksi pertanian. Penurunan produksi pertanian dapat memengaruhi ketersediaan bahan pangan, yang mana hal ini menjadi masalah bagi Indonesia yang memiliki laju pertumbuhan penduduk pertahun sebesar 1,38% atau sekitar 3,5 juta penduduk.[4] Dalam rangka memenuhi kebutuhan produk pertanian pemerintah dapat melakukan impor untuk menutupi kekurangan produksi pertanian dalam negeri. Impor yang tidak diiringi usaha untuk meningkatkan produksi pertanian dalam negeri tetapi menjadi tidak menguntungkan dalam jangka panjang karena pemerintah terus mengeluarkan uang untuk memenuhi permintaan produk pertanian yang semakin besar seiring dengan pertumbuhan penduduk. Impor sendiri tetapi juga dapat dikatakan berkontribusi dalam penurunan jumlah petani karena keuntungan yang berkurang akibat produk pertanian lokal kalah bersaing dengan produk impor[5] mendorong petani berusia muda beralih ke sektor lain yang dirasa lebih menguntungkan.[6]

Dalam rangka melindungi produk pertanian lokal dan mencegah keuntungan petani berkurang sehingga petani berpindah ke sektor lain pemerintah dapat menerapkan kebijakan proteksionisme untuk pertanian. Menetapkan tarif untuk membuat harga produk pertanian yang diimpor lebih mahal dibanding produk pertanian lokal supaya masyarakat lebih memilih untuk membeli produk pertanian lokal. Dalam hal ini pemerintah perlu menyesuaikan tarif sesuai dengan keadaan sehingga dalam keadaan kekeringan, wabah, atau gagal panen yang menyebabkan kekurangan makanan harga produk pertanian tidak terlalu tinggi untuk dibeli masyarakat. Menetapkan standar kualitas tertentu bagi produk pertanian sehingga mempersulit produk pertanian, yang tidak memenuhi standar, untuk diimpor ke Indonesia. Menetapkan standar tertentu untuk produk pertanian di Indonesia dihadapkan pada masalah produk pertanian lokal di beberapa daerah memiliki kualitas yang lebih rendah dibanding produk pertanian impor. Berdasarkan hal itu maka pemerintah perlu membantu petani untuk meningkatkan kualitas produk pertanian melalui cara seperti edukasi dan penyediaan bibit unggul. Menetapkan kuota impor untuk membatasi jumlah produk pertanian yang diimpor sehingga melindungi produk pertanian lokal dari kompetisi sembari mengatasi kekurangan atau ketiadaan produk pertanian tertentu.

Sebagai pembanding dan contoh penerapan tiga kebijakan proteksionisme di atas dapat dilihat Uni Eropa. UE menerapkan tarif sebesar 18%-28% untuk produk pertanian, dengan gula, produk peternakan, dan daging mendapatkan tarif yang lebih besar dibanding kakao dan kopi. UE juga menerapkan berbagai standar bagi produk pertanian yang diimpor sehubungan dengan berbagai hal teknis, kebersihan, dan kesehatan tanaman. Impor produk pertanian juga dibatasi dengan kuota yang diiring dengan tingkat tarif tertentu sesuai dengan kuota yang diberikan. Kemudian UE juga memberikan uang pada para petani yang memenuhi kualifikasi lingkungan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan dalam pembayaran yang dinamakan Single Farm Payment sebagai bentuk pengakuan terhadap standar tinggi produk pertanian UE. UE juga memberikan uang pada para petani di wilayah tertentu untuk menghindari lahan pertanian ditinggalkan.[7]

Kemudian untuk mengatasi penurunan jumlah pekerja dan penurunan produksi di sektor pertanian dapat dilakukan mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian melihat kegiatan pertanian tidak dilakukan lagi secara manual melainkan menggunakan mesin, dalam kasus padi dari pembajakan, penanaman, hingga penggilingan. Melalui mekanisasi pertanian lahan yang luas dapat diolah oleh petani dalam jumlah sedikit. Dalam melakukan mekanisasi pertanian tetapi pemerintah dihadapi pada permasalahan biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan mesin dan tingkat pendidikan para pekerja di sektor pertanian, petani dengan pendidikan SD ke bawah mencapai 75,19%.[8] Dalam rangka menghadapi permasalahan biaya untuk mesin yang dibutuhkan pemerintah dapat memberikan petani subisidi atau pinjaman lunak. Sedangkan masalah pendidikan pemerintah dapat memberikan edukasi tersendiri mengenai pertanian dan mekanisasi pertanian. Dalam melakukan mekanisasi pertanian pemerintah dapat mencontoh Filipina yang telah melakukan hal ini dengan bantuan Jepang.[9]

Muhammad Irsyad Abrar
Kementerian Kajian Strategis
Kabinet Kolaborasi Kebaikan
BEM KM UGM 2017

Bibliografi

“A mechanization program for Philippine agriculture.” Manila Bulletin, 24 January 2017, http://news.mb.com.ph/2017/01/24/a-mechanization-program-for-philippine-agriculture/, diakses pada 25 Juli 2017.

Anjani, O.I.Y., dan P.C. Ugwu. “Impact of Adverse Health on Agricultural Productivity of Farmers in Kainji Basin North-Central Nigeria Using a Stochastic Production Frontier Approach.” Trends in Agriculture Economics 1, no. 1 (2008): 1-7.

“Exploring links between EU agricultural policy and world poverty.” Trinity College Dublin, 25 August 2010, https://www.tcd.ie/iiis/policycoherence/eu-agricultural-policy/protection-measures.php, diakses pada 23 Juli 2017.

Fitri, Sonia. “Kesejahteraan Petani Indonesia Masih Rentan di Era Pasar Bebas ASEAN.” Republika Ekonomi, 5 January 2016, http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/05/o0gkdy383-kesejahteraan-petani-indonesia-masih-rentan-di-era-pasar-bebas-asean, diakses pada 25 Juli 2017.

________. “Pertanian Indonesia Hadapi Situasi Sulit.” Republika Online, 20 January 2016, http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/20/o188qd359-pertanian-indonesia-hadapi-situasi-sulit, diakses pada 19 Juli 2017.

Gusti. “Stop Impor Daging dan Beras?.” Universitas Gadjah Mada, 11 September 2011, http://ugm.ac.id/id/berita/3644-stop.impor.daging.dan.beras, diakses pada 19 Juli 2017.

“Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi.” Badan Pusat Statistik, 7 Maret 2017, https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1268, diakses pada 19 Juli 2017.

“Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama 1986 – 2017,” Badan Pusat Statistik, 19 Juni 2017, https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/970, diakses pada 18 Juli 2017.

Prasetiyo, Bagus. “Indonesia Darurat Petani Muda.” Tempo, 11 Agustus 2016, https://m.tempo.co/read/news/2016/08/11/090795077/indonesia-darurat-petani-muda, diakses pada 18 Juli 2017.

 

[1] “Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama 1986 – 2017,” Badan Pusat Statistik, 19 Juni 2017, https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/970, diakses pada 18 Juli 2017.

[2] Bagus Prasetiyo, “Indonesia Darurat Petani Muda,” Tempo, 11 Agustus 2016, https://m.tempo.co/read/news/2016/08/11/090795077/indonesia-darurat-petani-muda, diakses pada 18 Juli 2017.

[3] O.I.Y. Anjani dan P.C. Ugwu, “Impact of Adverse Health on Agricultural Productivity of Farmers in Kainji Basin North-Central Nigeria Using a Stochastic Production Frontier Approach,” Trends in Agriculture Economics 1, no. 1 (2008), 6.

[4] Laju pertumbuhan penduduk Indonesia pertahun mencapai 1,38%, sekitar 3,5 juta orang. “Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi,” Badan Pusat Statistik, 7 Maret 2017, https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1268, diakses pada 19 Juli 2017.

[5] Gusti, “Stop Impor Daging dan Beras?,” Universitas Gadjah Mada, 11 September 2011, http://ugm.ac.id/id/berita/3644-stop.impor.daging.dan.beras, diakses pada 19 Juli 2017.

[6] Sonia Fitri, “Pertanian Indonesia Hadapi Situasi Sulit,” Republika Online, 20 January 2016, http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/20/o188qd359-pertanian-indonesia-hadapi-situasi-sulit, diakses pada 19 Juli 2017.

[7] “Exploring links between EU agricultural policy and world poverty,” Trinity College Dublin, 25 August 2010, https://www.tcd.ie/iiis/policycoherence/eu-agricultural-policy/protection-measures.php, diakses pada 23 Juli 2017.

[8] Sonia Fitri, “Kesejahteraan Petani Indonesia Masih Rentan di Era Pasar Bebas ASEAN,” Republika Ekonomi, 5 January 2016, http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/05/o0gkdy383-kesejahteraan-petani-indonesia-masih-rentan-di-era-pasar-bebas-asean, diakses pada 25 Juli 2017.

[9] “A mechanization program for Philippine agriculture,” Manila Bulletin, 24 January 2017, http://news.mb.com.ph/2017/01/24/a-mechanization-program-for-philippine-agriculture/, diakses pada 25 Juli 2017.