Pendidikan dilihat dari sudut pandang etimologi adalah “memelihara”, “mengasuh”,sesuai dari kata dalam bahasa latin   ēduc āt iō Apa yang dipelihara atau diasuh? Pendidikan dalam sejarahnya adalah sebuah kegiatan pembekalan bagi seorang manusia untuk dapat berkontribusi di dalam masyarakat. Ditilik dari fungsinya, pendidikan adalah sarana yang memfasilitasi  manusia  untuk  memperoleh  kemampuan,  skill,  dan  ilmu  yang  berfungsi praktis atau yang lebih bersifat indoktrisasi seperti nilai, keyakinan, paham, dan idealisme.

Sedangkan   komersialisme   adalah   kegiatan   atau   usaha   yang   dilakukan   dan berorientasi pada profit apapun bentuknya. Keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya begitu kata “mereka”. Di zaman dimana uang dapat membeli apapun, semua lini dalam masyarakat tak ada yang luput dari upaya komersialisasi. Kebutuhan tersier, sekunder, bahkan primer yang mungkin kita bisa mati bila sampai tak terpenuhi, semua terkena dampak komersialisasi. Air putih yang dulu oleh kakek-nenek kita tinggal menciduk untuk mendapatkannya dan tak pernah terpikirkan akan menjadi sesuatu yang dapat diperjual-belikan, sekarang pun nyatanya adalah bisnis yang menjamur menjadi berbagai merek dengan segala embel-embel mengandung mineral blablabla yang berkhasiat membuat tubuh kita blablabla.

Pertanyaannya, apakah pendidikan adalah sebuah pengecualian? Haramkah mengkomersialkannya? Apa dampaknya?

Berbicara komersialisasi pendidikan maka kita berbicara tentang pendidikan yang diperdagangkan. Dimana institusi pendidikan sebagai motor penggerak berlangsungnya laju pendidikan tak ubahnya seperti badan korporasi bisnis yang setiap aspek kegiatannya tidak jauh-jauh dari kegiatan mengeruk keuntungan. Jasa Pendidikan adalah komoditinya, sementara  mahasiswa  adalah  konsumen  utama  dari  roda  produksi  itu  sendiri.  Dengan adanya   praktek   komersialisasi   di   bidang   pendidikan   ini   tentu   imbasnya   ada   pada peningkatan beban biaya kuliah, berkurangnya kesempatan dari masyarakat kelas bawah untuk menikmati pendidikan, dan bobroknya pengampu institusi pendidikan itu sendiri yang terlalu fokus pada profit oriented.

Lalu masalahnya dimana? Apakah memang kegiatan pendidikan itu harus terbebas dari praktek komersil? Apakah mungkin pendidikan di Indonesia itu gratis? Nah, disinilah pangkalnya. Bila  kita  melihat contoh  negara-negara Skandinavia,  Britania Raya, maupun Amerika  Serikat  yang  mutu  Pendidikannya  sudah  bagus,  tentu  praktek  komersialisasi tetaplah ada bahkan dominan. Tetapi negara-negara tersebut dalam menyelenggarakan pendidikan berpijak dari dasar konstitusi dan cita-cita negara yang jelas-jelas menjamin pendidikan berkualitas dan semakin maju untuk rakyatnya.

Lentas di negeri kita ini bagaimana? Termuat jelas dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945 bahwa tujuan bernegara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya terdapat hak untuk mengenyam pendidikan oleh masing-masing warga negara tanpa memandang keadaan ekonomi. Berlakunya UU 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi ataupun  pendahulunya  UU  Nomor  9  Tahun  2009  tentang  Badan  Hukum  Pendidikan nyatanya merupakan bentuk halus dari  reduksi tanggung jawab negara. Mempersilakan pihak swasta yang notabene pelaku bisnis untuk ikut campur tangan menghimpun dana dan menjadikan institusi pendidikan tinggi negeri selayaknya badan korporasi adalah bentuk nyata dari praktek komersialisasi itu sendiri.

Bila kita melihat realitas di kampus-kampus seluruh Indonesia saat ini, memang kita seperti tak mungkin lepas dari aspek komersil. Pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi sangat utopis. Alih-alih mencoba menyadarkan tentang bahaya komersialisasi Pendidikan dan utopia cita-cita pendidikan sesuai amanat konstitusi, rutinitas kita sebagai mahasiswa seperti tenggelam dalam kepasrahan keadaan kampus. Segudang tugas kuliah sampai batasan masa kuliah 5 tahun, serta serangkaian harapan setelah lulus kuliah untuk kerja bergaji tinggi dan sukses seakan-akan sudah cukup untuk menutup mata kita akan komesialisasi pendidikan ini.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan bila memang pendidikan gratis itu hal yang utopis? Bila memang komersialisasi pendidikan itu adalah kehalalan yang terpaksa dilakukan pemerintah demi memerenggangkan anggaran pendidikan yang begitu besar, apakah sikap kita sebagai mahasiswa untuk pasrah pada keadaan itu sudah tepat? Memang ada kalanya idealitas terbentur realitas, tetapi apa gunanya kesadaran yang tidak disertai dengan tindakan. Chili saja butuh bertahun-tahun untuk menggetarkan revolusi pendidikannya. Intinya  adalah  pencerdasan  bahwa  memperjuangkan  pendidikan  yang lebih baik  adalah mungkin. Bahwa Jaminan Pendidikan Nasional dapat diwujudkan. Bila komersialisasi pendidikan tak terelakan lagi, hapuskan saja UUD NRI Tahun 1945.

Pemerintah dan masyarakat mengharapkan terwujudnya pendidikan yang ideal di Indonesia. Seperti apakah pendikan yang ideal itu? Semua masyarakan akan mendapatkan pekerjaan yang ‘ideal’ bagi masyarakat? Semua orang nantinya akan mendapatkan pekerjaan? Semua orang berpenghasilan tinggi? Atau sistem pendidikan di negara maju seperti Jepang, Singapura, Finlandia, atau yang lainnya?

Tidak sama sekali tidak, yang dapat menentukan tolak ukur ideal adalah orang yang menjalaninnya. Bangsa yang menjalaninnya. Pendidikan Indonesia akan maju apabila Bangsa Indonesia menerapkan sistem pendidikan yang sesuai dengan karakter Bangsa Indonesia. Inilah polemik bangsa ini, sistem pendidikan Indonesia sangat menjemukan. Kita diarahkan untuk menjadi karyawan yang baik. “Demi pendidikan bermutu” kita mengadopsi sistem pendidikan Jepang, Amerika Serikat, dll, yang sebenarnya karakter negara-negara tersebut berbeda dengan karakter Bangsa Indonesia.

Kenapa  kita  tidak  mencoba  menerapkan  sistem  pendidikan  di  masa  kerajaan Sriwijaya yang pada masanya merupakan pusat pendidikan Buddha di dunia atau sistem pendidikan  kerajaan  Majapahit  sebagai  pusat  peradaban  Hindu  atau  kerajaan  Demak sebagai pusat kebudayaan Islam. KIta juga dapat mencontoh sistem pendidikan lokal yang dahulunya berhasil  membawa Nusantara menjadi maju, beradab, dan disegani di dunia Internasional.

 

Detasemen Komersialisasi Pendidikan
Kementerian Kajian Pendidikan Tinggi

Referensi
https://indoprogress.com/2013/03/uu-pendidikan-tinggi-dalam-jerat-kapitalisme/
https://indoprogress.com/2016/07/merebut-hak-atas-kampus/