Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap hari kita dihadapkan pada problematika sehari- hari.  Sebut saja kemacetan di jalan, tugas dan laporan yang harus kita selesaikan, maupun urusan organisasi yang tengah kita emban. Dengan banyaknya kesibukan yang tengah kita jalani, apabila kita tidak memiliki coping yang baik, maka kita akan hanyut dalam keresahan dan kecemasan yang berlarut-larut. Ada beberapa hal yang membuat saya resah, tidak hanya sebatas pada masalah pribadi seperti yang telah saya sebutkan di atas, namun juga terkait dengan kebijakan di kampus kita tercinta, Universitas Gadjah Mada. Salah satu hal yang membuat saya resah adalah ketika saya mendengar isu bahwa pada tahun 2015, beasiswa PPA-BBP akan dihapuskan. Beasiswa PPA-BBP selalu setidaknya sudah diselenggarakan sepanjang  10  tahun  terakhir,  namun  pada  tahun  2015,  PPA-BBP  dihapuskan  untuk PTN. Tentu, banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya, memang atas dasar apa beasiswa itu ditiadakan? Dan apakah tahun ini beasiswa PPA-BBP akan diselenggarakan lagi?

Pemberian beasiswa ini sesuai dengan amanat Pasal 76 UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menyatakan bahwa (1) Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau Perguruan Tinggi berkewajiban memenuhi hak mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi untuk dapat menyelesaikan studinya sesuai dengan peraturan akademik. Selain itu, pada ayat (2) Pemenuhan hak mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi; bantuan atau membebaskan biaya pendidikan; dan/atau pinjaman dana tanpa bunga yang wajib dilunasi setelah lulus dan/atau memperoleh pekerjaan. Selaras dengan amanat pasal tersebut, sudah seharusnya pemerintah menjamin hak mengenyam pendidikan bagi warga negaranya dengan cara memberikan beasiswa.

Beasiswa bisa menjadi reinforcement positif bagi mahasiswa. Itu artinya, mahasiswa akan termotivasi untuk meningkatkan prestasinya dengan adanya reinforcement tersebut, dalam hal ini adalah beasiswa. Mengingat banyak persyaratan beasiswa yang mencantumkan minimal IPK yang diperoleh, hal ini menjadikan mahasiswa menjadi kompetitif untuk semakin meningkatkan prestasi khususnya dibidang akademik.

Dengan adanya beasiswa, setidaknya juga menjadi solusi tersendiri untuk meringankan biaya UKT yang harus ditanggung oleh mahasiswa tiap semesternya. Salah satu beasiswa yang ada di UGM yaitu beasiswa PPA-BBP yang manjadi ‘oase’ bagi mahasiswa karena selain kuotanya yang besar, syarat-syarat yang dipenuhi juga mudah. Ditambah dengan persyaratan beasiswa PPA-BBP yang tidak terikat pada program studi tertentu sehingga dapat merata di setiap fakultas. Besaran bantuan dana yang diberikan pun terhitung lumayan yakni Rp350.000/bulan sehingga dapat meringankan kondisi ekonomi dan sebagai motivasi untuk terus meningkatkan prestasi.

Sebelumnya, mungkin ada yang bertanya-tanya, memang apa sih beasiswa PPA-BBP itu? Beasiswa PPA dan BBP adalah beasiswa yang diselenggarakan oleh Dikti bagi mahasiswa di seluruh Indonesia. Beasiswa PPA adalah singkatan dari Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik yang ditujukan untuk mahasiswa berprestasi dengan pertimbangan memiliki nilai IPK yang baik, jumlah SKS yang ditempuh, dan berprestasi di bidang non-akademik. Sedangkan Beasiswa BBP adalah singkatan dari Beasiswa Bantuan Biaya Pendidikan yang ditujukan pada mahasiswa yang berasal dari keluarga menengah kebawah atau kurang mampu.

Keberadaan beasiswa PPA-BBP mulai menimbukan keresahan saat di tahun 2015, pemerintah memutuskan untuk menghapus beasiswa PPA-BBP bagi PTN dikarenakan anggaran beasiswa ini akan dialokasikan untuk pembangunan Science Techno Park (STP). Pada tahun 2015 pemerintah menganggarkan beasiswa PPA-BBP dengan kuota sebanyak 50.000, namun hanya diperuntukkan bagi PTS saja. Penghapusan PPA-BBP bagi PTN ini tentunya membuat PTN harus susah payah menyediakan beasiswa PPA-BBP dengan dana sendiri sesuai dengan kemampuan finansial Universitas. Dalam perkembangannya, akhirnya setelah adanya rapat  Komisi  X  DPR,  beasiswa  tetap  diberikan  pada  50.000  mahasiswa  PTS dan  71.000 mahasiswa PTN.

Pada tahun 2016, terjadi kesimpangsiuran informasi mengenai beasiswa ini. Penerima beasiswa di tahun 2016 kurang lebih hanya 50.000 mahasiswa. Ditambah khusus PTN-BH ada atau tidaknya beasiswa ini ditentukan oleh kebijakan masing-masing PTN-BH. Akhirnya, UGM sebagai salah satu PTN-BH tetap memberikan beasiswa ini tetapi dengan jumlah penerima beasiswa yang terbatas dan cenderung menurun drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2014 kuota bagi penerima beasiswa PPA-BBP mencapai 3200, kemudian pada tahun 2015, turun menjadi 1190, dan pada tahun 2016 penerima PPA hanya 180 mahasiswa dan penerima BBP hanya 60 mahasiswa saja. Ironis memang ketika peniadaan beasiswa PPA- BBP tidak diimbangi dengan penggantian dengan beasiswa lain yang besaran dan kuotanya setidaknya sama dengan PPA-BBP tahun 2015. Lalu bagaimana di tahun 2017 ini? Apakah beasiswa  ini masih  ada?  Dikutip  dari  web  ugm.ac.id,  universitas  sedang  mengupayakan beasiswa sejenis yang akan disediakan mulai semester I tahun akademik 2016/2017 dalam jumlah  terbatas  sesuai  dengan  kemampuan  finansial  Universitas,  dan akan  ditingkatkan secara bertahap pada tahun anggaran 2017. Ya, semoga semua itu terealisasikan dan dengan adanya permasalahan ini setidaknya membuat kita aware bahwa saat ini UGM sedang tidak baik-baik saja.

Annisa Handayaningtyas
Kementerian Kajian Pendidikan Tinggi
BEM KM UGM 2017
Kabinet Kolaborasi Kebaikan

Referensi:
-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
-Keputusan   Rektor   UGM   Nomor   1458/UN1.P.I/SK/HUKOR/2016   tentang   Pemberian Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik Universitas Gadjah Mada
-Keputusan   Rektor   UGM   Nomor   1459/UN1.P.I/SK/HUKOR/2016   tentang   Pemberian Beasiswa Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik Universitas Gadjah Mada